pejuanghukum45.my.id – Sanusi
Surabaya – Perahu-perahu berhias motif batik perlahan bergerak menyusuri Sungai Kalimas Kota Surabaya. Dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel), perjalanan itu membuat batik hadir dengan cara yang berbeda di tengah Kota Surabaya.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari puncak peringatan Hari Batik Nasional 2026 yang dikemas melalui agenda Batik Berlayar, Jumat (2/10/2026) malam.

Sebanyak 10 perahu membawa tamu VIP menyusuri Kalimas dengan ornamen batik yang mengangkat motif khas Tulungagung.
Di sepanjang perjalanan, para peserta yang mengenakan busana batik turut menikmati suasana sungai yang menjadi salah satu ikon Kota Surabaya tersebut.
Kalau biasanya kita membawa batik ke sebuah gedung, ke ruang pamer, atau ke atas panggung, kali ini kami berpikir, mengapa tidak kita bawa batik keluar,” ujar Ketua Yayasan Batik Indonesia (YBI), Gita Gilang Kencana.
Batik adalah budaya yang hidup. Karena itu, batik tidak harus selalu berada di tempat yang formal. Batik bisa hadir di ruang publik, di jalan, di perjalanan, dan di tengah kehidupan masyarakat,” imbuhnya.
Pemilihan Sungai Kalimas sendiri bukan sekadar persoalan lokasi. Sungai yang membentang hingga kawasan laut tersebut menjadi bagian dari identitas Kota Surabaya sekaligus mendukung gagasan perjalanan batik menuju ruang yang lebih luas. Dari Taman Prestasi, perahu-perahu kemudian bergerak menuju Monkasel.
Bagi penyelenggara, perjalanan tersebut menjadi simbol bahwa batik dapat terus bergerak, berkembang, dan dikenal lebih luas. Ketua Hari Batik Nasional, Wirasno, mengatakan penyelenggaraan di Surabaya juga memberikan pengalaman berbeda karena kegiatan serupa sebelumnya lebih sering digelar di Jakarta maupun Solo.

Filosofinya adalah batik sendiri akan kami bawa berlayar mengarungi samudera. Sungai Kalimas ini sangat memenuhi syarat untuk menggambarkan itu,” kata pria yang biasa disapa Pak Wir itu.
Apalagi ada satu kekayaan daerah yang mendapat sorotan khusus dalam perjalanan tersebut, yakni batik Tulungagung.
Sebanyak sepuluh perahu yang digunakan untuk membawa tamu VIP dihiasi ornamen batik yang mengambil motif dari daerah tersebut. Pilihan itu sekaligus memperkenalkan kekayaan batik Jawa Timur dalam perayaan tingkat nasional.
Ornamen batiknya kami ambil dari motif Tulungagung. Batik Tulungagung sampai sekarang itu masih melestarikan motif klasik, tidak tersentuh kontemporer,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai kehadiran batik Tulungagung dalam perayaan tersebut juga menjadi gambaran bahwa kekayaan batik tidak hanya berasal dari daerah yang selama ini dikenal sebagai pusat batik.
Tulungagung ini kan menjadi ikonnya ya, saya sebetulnya bertetangga dengan Tulungagung. Batik Tulungagung merepresentasikan semangat dari kabupaten lainnya,” tutur pria yang biasa disapa Emil Dardak itu.
Untuk itu, pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi puncak Hari Batik Nasional 2026 sekaligus memberi ruang bagi daerah-daerah untuk memperkenalkan karakter batiknya.
Menurutnya, setiap daerah memiliki kekayaan dan karya para perajin yang patut mendapat perhatian. Karena itu, batik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai produk dari kota-kota yang selama ini menjadi pusat industri dan fesyen.
Tidak ada kata tidak mungkin bahwa Yayasan Batik Indonesia dan Puncak Hari Batik Nasional 2026 telah membuktikan bahwa batik adalah karya dari seluruh perajin batik dari Sabang sampai Merauke. Mereka semua berhak untuk diapresiasi karyanya dan kita lestarikan bersama,” imbuhnya.
Pesan tersebut sejalan dengan gagasan YBI untuk membuat batik terus berkembang. Pelestarian bukan berarti membekukan batik sebagai peninggalan masa lalu. Karena itu, cara memperkenalkan batik pun diharapkan terus berkembang mengikuti karakter setiap daerah.
Semoga ke depannya akan semakin banyak daerah yang berani menghadirkan batiknya dengan cara-cara yang kreatif, sesuai dengan karakter dan kekayaan budayanya masing-masing,” kata Gita Gilang Kencana.
Kini Batik Berlayar menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2026 yang diselenggarakan YBI bersama Kementerian Perindustrian Republik Indonesia serta melibatkan sejumlah pihak lainnya.
Perjalanan perahu-perahu bermotif batik di Kalimas diharapkan tidak berhenti sebagai pemandangan selama satu hari. Ia ingin pesan mengenai batik sebagai warisan budaya Indonesia terus bergema setelah perayaan selesai.
Semoga kapal-kapal yang berlayar ini, bukan hanya ditonton oleh mereka yang hari ini atau malam hari ini hadir, tetapi resonansi dan gaungnya akan terasa sampai waktu yang sangat panjang dan ke khalayak yang lebih luas,” ucap Emil Dardak.
